Konstruksi Epistemologi Bayani, Irfani, dan Burhani pada Kitab Tanqīḥ Al-Qaul Al-Ḥathīth Karya Syekh Nawawi Al-Bantani

Authors

  • Muniri STAI Al-Hamidiyah Bangkalan
  • Mahsun STAI Al-Hamidiyah Bangkalan
  • Nur Chotimah Azis STAI Raudhatul Ulum Arrahmaniyah Sampang

DOI:

https://doi.org/10.15642/Javano.2026.4.2.80-102

Keywords:

Syekh Nawawi al-Bantani, Tanqīḥ al-Qaul, epistemologi Islam, bayani, irfani, burhani

Abstract

Kajian mengenai karya ulama Nusantara tidak cukup berhenti pada inventarisasi teks dan penjelasan kandungannya, tetapi perlu diarahkan pada pembacaan terhadap struktur pengetahuan yang membentuk argumentasi di dalamnya. Artikel ini menganalisis konstruksi epistemologi ilmu dalam Tanqīḥ al-Qaul al-Ḥathīth fī Sharḥ Lubāb al-Ḥadīth karya Syekh Nawawi al-Bantani dengan menggunakan tipologi epistemologi Muhammad Abid al-Jabiri yang meliputi bayani, irfani, dan burhani. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis dan analisis isi. Sumber primer penelitian adalah Tanqīḥ al-Qaul, terutama bab Fī Faḍīlat al-'Ilm wa al-'Ulamā', sedangkan karya al-Jabiri serta penelitian tentang Syekh Nawawi dan tradisi intelektual Islam Nusantara digunakan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pengetahuan Syekh Nawawi tidak memperlihatkan bayani, irfani, dan burhani sebagai tiga sistem yang bekerja secara seimbang. Nalar bayani menempati posisi dominan karena Al-Qur'an, hadis, dan otoritas ulama menjadi sumber serta titik awal penetapan kebenaran. Unsur burhani muncul ketika Syekh Nawawi memberikan penjelasan rasional terhadap hubungan ilmu, tindakan, dan akibat moral suatu perbuatan, tetapi rasionalitas tersebut tetap bergerak dalam horizon normatif teks. Sementara itu, kecenderungan irfani terutama muncul pada orientasi batin penuntut ilmu melalui keikhlasan, warā', kedekatan kepada Allah, dan penyatuan ilmu dengan amal. Temuan ini menunjukkan pola epistemologi hierarkis-komplementer yang dapat dirumuskan sebagai bayani sebagai basis otoritas, burhani sebagai mekanisme rasionalisasi, dan irfani sebagai orientasi etis-spiritual. Pola tersebut memperlihatkan karakter khas epistemologi turats pesantren yang tidak memisahkan teks, akal, dan pembentukan moral subjek pencari ilmu.

References

Abbas, A. F. (2012). Integrasi pendekatan bayânî, burhânî, dan ‘irfânî dalam ijtihad Muhammadiyah. AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah, 12(1), 51-58. https://doi.org/10.15408/ajis.v12i1.979

al-Bantani, M. N. b. 'U. (1934). Tanqīḥ al-qawl al-ḥathīth fī sharḥ Lubāb al-ḥadīth. Maṭba'ah Muṣṭafā Muḥammad.

al-Jabiri, M. A. (1984). Takwīn al-'aql al-'Arabī. Dār al-Ṭalī'ah.

al-Jabiri, M. A. (1986). Bunyat al-'aql al-'Arabī: Dirāsah taḥlīliyyah naqdiyyah li nuẓum al-ma'rifah fī al-thaqāfah al-'Arabiyyah. Markaz Dirāsāt al-Waḥdah al-'Arabiyyah.

al-Jabri, M. A. (2011). The formation of Arab reason: Text, tradition and the construction of modernity in the Arab world. I.B. Tauris.

Amin, S. M. (2009). Sayyid ulama Hijaz: Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani. Pustaka Pesantren.

Azra, A. (2004). Jaringan ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII: Akar pembaruan Islam Indonesia. Kencana.

Bahary, A. (2015). Tafsir Nusantara: Studi kritis terhadap Marah Labid Nawawi al-Bantani. ULUL ALBAB Jurnal Studi Islam, 16(2), 176-190. https://doi.org/10.18860/ua.v16i2.3179

Baydi, U., Farihin, H., & Abdurrahman, A. (2024). Islamic moral ideas and politics: Ulama activist Hadratus Sheikh Hasyim Asy'ari and Sheikh Nawawi al-Bantani. Al-A'raf: Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, 21(1), 82-104. https://doi.org/10.22515/ajpif.v21i1.9508

Burhanudin, J. (2022). Two Islamic writing traditions in Southeast Asia: Kitab Jawi and Kitab Kuning with reference to the works of Da'ud al-Fatani and Nawawi al-Bantani. Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies, 60(1), 1-28. https://doi.org/10.14421/ajis.2022.601.1-28

Burhanuddin, M. S., Syamsuddin, M., & Qudsy, S. Z. (2019). Kajian kontemporer terhadap karya Nawawi al-Bantani. DINIKA: Academic Journal of Islamic Studies, 4(1), 83-102. https://doi.org/10.22515/dinika.v4i1.2061

Khusaeri. (2014). Pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani dalam bidang hukum Islam: Tentang taklif dan mukalaf. Al-A'raf: Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, 11(1), 15-35. https://doi.org/10.22515/ajpif.v11i1.1196

López-Farjeat, L. X. (2026). Pondering Mohammed Abed Al-Jabri's project of an “Arab reason.” Religions, 17(3), 381. https://doi.org/10.3390/rel17030381

Mas'ud, A. (2006). Dari Haramain ke Nusantara: Jejak intelektual arsitek pesantren. Kencana.

Monady, H., Hasan, M., & Sagir, A. (2025). Building hadith authority: The pioneering role of Malay Archipelago scholars. Al-Bayan: Journal of Qur'an and Hadith Studies, 23(1), 73-100. https://doi.org/10.1163/22321969-20250167

Muhammad, M. (2022). Yahudi di Indonesia: Analisis interpretasi Nawawi al-Bantani dalam kitab Marāḥ Labīd. AL QUDS: Jurnal Studi Alquran dan Hadis, 6(2), 887-904. https://doi.org/10.29240/alquds.v6i2.4298

Musadad, A. N., & Faiz, M. F. (2022). Sketching the early 20th century Hijaz-Jawi Islamic scholarship through the commentary literature: A preliminary study on Muḥammad 'Ali al-Māliki's Inārat al-Dujā. Journal of Indonesian Islam, 16(2), 480-510. https://doi.org/10.15642/JIIS.2022.16.2.480-510

Nurzakka, M. (2021). Study of Tanqih al-Qaul al-Hatsits: The book of Sheikh Nawawi al-Bantani. Jurnal Living Hadis, 6(1), 21-48. https://doi.org/10.14421/livinghadis.2021.2356

Rahman, A. (1996). Nawāwī al-Bantānī: An intellectual master of the pesantren tradition. Studia Islamika, 3(3), 81-114. https://doi.org/10.15408/sdi.v3i3.801

Sagir, A., Hasan, M., Monady, H., & Majid, L. A. (2024). Indonesian hadith scholars' contribution to the establishment of hadith authority in Malay Archipelago. Journal of Indonesian Islam, 18(2), 532-557. https://doi.org/10.15642/JIIS.2024.18.2.532-557

Sakinah, F. (2020). Epistemologi syarah hadis Nusantara: Studi syarah hadith Tanqih al-Qawl al-Hatsits fi Syarh Lubab al-Hadits karya Nawawi al-Bantani. Riwayah: Jurnal Studi Hadis, 6(1), 71-88. https://doi.org/10.21043/riwayah.v6i1.6776

Sanusi, A. (2018). The contributions of Nawawi al-Bantani in the development of national law of Indonesia. Al-'Adalah, 15(2), 415-436. https://doi.org/10.24042/adalah.v15i2.3388

van Bruinessen, M. (1999). Kitab kuning, pesantren dan tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Mizan.

Wasman, Mesraini, & Suwendi. (2023). A critical approach to prophetic traditions: Contextual criticism in understanding hadith. Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies, 61(1), 1-17. https://doi.org/10.14421/ajis.2023.611.1-17

Zulfarizal, Kharis, M. A., & Fudhaili, A. (2025). The credibility of Shaykh Nawawi al-Bantani in ḥadīth studies: A study of his sanad and ḥadīth books. AL QUDS: Jurnal Studi Alquran dan Hadis, 9(1), 208-220. https://doi.org/10.29240/alquds.v9i1.10126

Downloads

Published

2026-10-20

How to Cite

Muniri, Mahsun, & Azis, N. C. (2026). Konstruksi Epistemologi Bayani, Irfani, dan Burhani pada Kitab Tanqīḥ Al-Qaul Al-Ḥathīth Karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Javano Islamicus, 4(2), 80–102. https://doi.org/10.15642/Javano.2026.4.2.80-102

Issue

Section

Articles